Posisi Kontrol sebagai Usaha Menuju Pendidikan Karakter


Seorang guru memiliki peran untuk mengembangkan budaya positif di sekolah. Budaya positif adalah bagaimana kita berperilaku untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan supaya tumbuh rasa saling menghargai, dan menghormati terhadap rekan sejawat, terhadap siswa, maupun antar siswa itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, budaya positif selalu menjadi nilai yang sudah seharusnya tertanam pada diri seorang guru maupun siswa.

Siapakah yang bertanggung jawab terhadap penanaman budaya positif di sekolah? Keberhasilan budaya positif dimulai dari peranan guru sebagai seorang pendidik yang bertugas sebagai suri tauladan dalam berperilaku di sekolah. Tanpa konsistensi perilaku yang baik dari seorang guru, mustahil karakter-karakter yang baik akan muncul dalam diri siswa. 

Penanaman budaya positif dapat dimulai dari teori kontrol kita sebagai guru. Menurut sebuah penelitian, terdapat beberapa posisi kontrol yang dapat guru perankan dalam menangani permasalah yang dihadapi siswa. Posisi tersebut adalah posisi penghuku, pembuat merasa berasalah, teman, pemantau, serta manajer. Posisi penghukum adalah peran yang paling berbahaya karena dengan membiarkan peran kontrol tersebut, anak hanya akan merasa diabaikan, bahkan semakin mereka melakukan kesalahan kesalahan yang lain karena penghukum mengibaratkan bahwa kesalahan kesalahan tidak dapat ditolerir dan kesan bagi seseorang yang melakukan kesalahan adalah selalu buruk di mata orang lain. Peran kedua adalah pembuat merasa bersalah, dimana siswa akan merasa bahwa perilakunya mengakibatkan orang lain tertimpa masalah. Kadangkala sikap seperti ini lebih berbahaya dari sikap penghukum, karena emosi akan tertanam rapat di dalam, murid menahan perasaan. Posisi ketiga adalah sebagai teman. Posisi ini akan berdampak baik dalam jangka waktu sesaat karena murid merasa didengar. Tetapi, lama kelamaan akan berdampak buruk karena murid merasa dibela dan tidak banyak solusi yang ditawarkan oleh guru sekaitan dengan permasalahan yang dihadapi siswa pada posisi kontrol ini. Posisi pemantau menawarkan sebuah gagasan bahwa ketika siswa melakukan kesalahan harus ada konsekueksi yang harus dijalankan saat siswa melakukan kesalahan. Hal ini baik adanya, namun perlu ada pemantauan jangka panjang serta kurang melibatkan murid dalam proses pemecahan masalahannya secara mandiri. Posisi terakhir adalah posisi manajer. Posisi ini dikatakan merupakan kontrol yang paling baik karena melibatkan siswa untuk memecahkan masalahnya secara mandiri dan dapat berdampak perubahan dalam jangka panjang.

Kelima posisi tersebut merupakan kontrol yang dapat dilakukan sebagai seorang guru. Posisi manajer dengan segala keberpihakannya pada murid merupakan posisi yang harus selalu menjadi acuan dalam mendampingi siswa menyelesaiakan masalahnya. Sepelenya, jika kita tetap membiarkan keterlambatan siswa dibiarkan, siswa akan merasa acuh dan tidak bisa menangani masalah mereka. Pendampingan siswa menuju karakter yang baik sesuai dengan hakikat pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara, yaitu usaha sadar penanaman/internalisasi nilai-nilai moral dalam sikap dan perilaku anak didik agar memiliki sikap, perilaku dan budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah) dalam keseharian baik berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan alam lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil.

Comments